Total Pageviews
Monday, 21 December 2015
Friday, 18 December 2015
Kumpulan Puisi Tentang Perjuangan Seorang IBU
Jasamu ibu
Jasamu teramat besar untukku
Engkau rela gantung nyawa saat mengeluarkanku
Darah dan lelahmu menjadi saksi biru hebatnya cintamu.
Sampai menjadi abu sekalipun
Kutetap tiada bisa membayar lunas jasamu
Engkau terlalu besar berkorban untukku.
Wahai ibu maafkan aku
Aku berbuat salah
Aku menyakiti hatimu dengan tingkahku
Aku minta maaf ibu.
Engkau adalah segalanya untukku
Gunung uang tidak akan bisa membelimu
Tidak, tidak ada materi yang bisa menukarmu.
Ibu jika nanti aku sukses
Aku berjanji akan membahagiakanmu
Tidak akan aku biarkan hidupmu merana
Akan kujaga kau hingga ujung nyawaku.Ibu Aku Merindukanmu
Ibu aku sangat merindukanmu
Ingin rasanya memelukmu
Mencium aroma tubuhmu
Mendekapmu dalam sayang.
Ibu aku sangat merindukanmu
Ingin kupandang wajahmu
Ingin kusentuh jemarimu
Ingin kukatakan aku sangat sayang padamu.
Ibu aku sangat merindukanmu
Disini aku selalu mengisi hatiku dengan tabah
Kujadikan setiap rindu airmata.
Ibu aku sangat merindukanmu
Ingin ada di dekatmu
Merasakan sayangmu
Merasakan hangatmu.
Ibu aku sangat merindukanmu
Disini aku berkutak dengan sakit
Ingin rasanya aku menyusulmu
Ingin rasanya aku bersamamu di putih surga.
Ibu aku sangat merindukanmu
Tuhan dengarkanlah ini
Dengarkanlah bisu ini
Dengarkanlah sayatan rindu ini.
Ibu aku sangat merindukanmu
Semoga nanti kita bisa bertemu kembali
Berjanji untuk selalu bersama di kehidupan setelah mati.
Terima Kasih Ibu
Terima kasih ibu
Berkatmu aku ada
Bisa melihat warna warna dunia
Bukan hitam putih.
Terima kasih ibu
Berkatmu aku menjadi jasad
Bisa berjalan kemana kaki ingin pergi
Hingga patah lelah.
Terima kasih ibu
Berkatmu aku besar
Dewasa dan bijak
Didikanmu sudah mengubahku.
Terima kasih ibu
Berkatmu aku memiliki keluarga
Memiliki ayah dan adik adik
Memiliki tempat yang selalu membuatku ingin pulang.
Terima kasih ibu
Berkatmu aku memiliki nama
Nama yang pendek
Tapi indah bermakna.
Terima kasih ibu
Berkatmu aku hidup
Bisa merasakan pahit manis hidup
Mengenal bahagia dan merana
Terima kasih untukmu wahai ibu.
Kamu Adalah Malaikatku
puisi untuk ibu karya: Rayhandi
Ibu
Kamu adalah malaikatku
Wanita baik berhati baja
Wanita yang hidupnya hanya untuk kami.
Ibu
Kamu adalah malaikatku
Kamu adalah malaikatku
Kamu adalah malaikatku
Kamu adalah malaikatku
Kamu adalah malaikatku
Kamu adalah malaikatku
Ibu
Kamu adalah malaikatku
Wanita baik berhati baja
Wanita yang hidupnya hanya untuk kami.
Ibu
Kamu adalah malaikatku
Aku lahir dari rahimmu
Keluar dari jasadmu.
Ibu
Wanita yang ada disetiap malamku
Mendoakan malamku.
Ibu
Saat aku tersenyum kau ada
Saat aku menangis kau juga ada.
Ibu
Dari merah aku sudah merasa cintamu
Cintamu untukku yang membuatmu berani.
Ibu
Engkau berani raib untukku
Engkau mau berkorban nyawa untukku anakmu ini.
Ibu
Seorang hawa yang tuhan kirim untuk menjagaku
Engkau tiada putih juga tiada sayap.
Wanita Miskin Itu
Wanita miskin itu
Yang memakai sendal jepit
Yang menjadi babu orang
Dia ibuku
Wanita miskin itu
Yang setiap hari bertemankan keringat
Yang tiada lelah menyeret kaki
Dia ibuku
Wanita miskin itu
Yang setiap gelap terlelap lelah
Yang setiap fajar bangun
Dia ibuku
Wanita miskin itu
Dia mencari nasi untukku dan adikku
Dia wanita terkuat
Tiada rasa lelah menghampirinya
Wanita miskin itu
Dia cahayaku
Dia menyinariku dari kesendirian
Dia berjuang darah untukku
Wanita miskin itu
Tiada pernah ia mengeluh
Ia yakin tuhan membahagiakannya
Dengan cara yang berbeda.
Wanita miskin itu
Dia tidak cantik tapi hatinya indah
Dia seorang wanita biasa
Yang memiliki cerita hidup yang luar biasa.
Wanita miskin itu
Wanita itu tidak kaya
Tidak juga fakir
Karena hatinya begitu hebat.
Wanita miskin itu
Kudoakan ia selalu
Malam dan siang menjadi saksi bagaimana ia menangis
Kelaparan hingga lapar merenggutnya.
Tuesday, 15 December 2015
Ibu ku Tercinta
Maafkan lah dosa anak mu yang telah banyak melakukan kesalahan kepadamu ibu, dan membuat hati mu menangis, aku cinta ibu,
Ibu,, kau adalah wanita terhebat yang ada di dunia ini, melindungi anak-anak mu dari segala ancaman, bertaruhkan nyawa demi anak mu, ,
ibu, saya ingin memeluk mu dan menangis di pangkuanmu ibu.
Ibu,, kau adalah wanita terhebat yang ada di dunia ini, melindungi anak-anak mu dari segala ancaman, bertaruhkan nyawa demi anak mu, ,
ibu, saya ingin memeluk mu dan menangis di pangkuanmu ibu.
Puisi Menyentuh Tentang Ibu
Dinginnya malam mencengkam kalbu
Membuka lembaran ingatan tentangmu yang kini jauh di ujung pulau
Sebelum mata terpejam, ku pinjam sepenggl waktu tuk memeluk bayangmu
Bersama sejuta rindu melebur dlm tarian pena berkepalah biru
Bayangan wajah kusut memenuhi kantong ingatanku
Engkau yg tidurnya tak kenal lelap kala malam menyapa
Engkau yg mendahului sang mentari sebelum pagi mengepkan sayapnya
Tak pernah mengeluh dlm gelap, tak pernah berkeluh kesah dlm senyap
Kulit yg dulu mulus, kini dipenuhi guratan” halus bagaikan benang sutra yg tak ternilai harganya
Rambut yg dulu hitam kemilau, kini sedikit demi sedikit dihinggapi uban
Sengatan raja siang, rintik hujan, tak henti menghujam
Tak jua redup kobaran api semangat juangmu
Engkau pahlawan hidupku, akankah kupijaki surga?
Bilur”luka menganga, ditikam tingka jahilku
Miliaran kata, merobek jiwa bijakmu
Akankah kutemui bahagia di akhir nafasku?
Di ujung malam ini, ku menyapamu lewat untaian sairku
Lewat desauan sang bayu, ku bingkiskan kidung kerinduan
Jika Chairil Anwar ingin hidup seribu thn lg, maka aku ingin hidup selamanya hnya untk memelukmu
Engkau cinta pertamaku, aku mencintaimu kemarin, hari ini, esok, dan hingga Tuhan cemburu melihatnya
Membuka lembaran ingatan tentangmu yang kini jauh di ujung pulau
Sebelum mata terpejam, ku pinjam sepenggl waktu tuk memeluk bayangmu
Bersama sejuta rindu melebur dlm tarian pena berkepalah biru
Bayangan wajah kusut memenuhi kantong ingatanku
Engkau yg tidurnya tak kenal lelap kala malam menyapa
Engkau yg mendahului sang mentari sebelum pagi mengepkan sayapnya
Tak pernah mengeluh dlm gelap, tak pernah berkeluh kesah dlm senyap
Kulit yg dulu mulus, kini dipenuhi guratan” halus bagaikan benang sutra yg tak ternilai harganya
Rambut yg dulu hitam kemilau, kini sedikit demi sedikit dihinggapi uban
Sengatan raja siang, rintik hujan, tak henti menghujam
Tak jua redup kobaran api semangat juangmu
Engkau pahlawan hidupku, akankah kupijaki surga?
Bilur”luka menganga, ditikam tingka jahilku
Miliaran kata, merobek jiwa bijakmu
Akankah kutemui bahagia di akhir nafasku?
Di ujung malam ini, ku menyapamu lewat untaian sairku
Lewat desauan sang bayu, ku bingkiskan kidung kerinduan
Jika Chairil Anwar ingin hidup seribu thn lg, maka aku ingin hidup selamanya hnya untk memelukmu
Engkau cinta pertamaku, aku mencintaimu kemarin, hari ini, esok, dan hingga Tuhan cemburu melihatnya
Bukti Sabar dan Ikhlas nya Pengorbanan Orang Tua
Inilah beberapa bukti kesabaran dan
keikhlasan yang dimiliki kedua orang tua saat merawat dan memenuhi
segala kebutuhan kita. Semoga dapat menjadi inspirasi dan menjadi modal
kita untuk senantiasa mengingat jasa-jasa yang mereka berikan untuk
kita.
Betapa Sabar Ibu Kita
Lihatlah sosok seorang ibu
ia adalah seorang wanita yang dengar sabar membawa kita kemanapun ia
pergi saat kita dalam kandungannya. Pernahkah kita renungkan tentang
hal ini saat kita telah dewasa? Ibu adalah ia yang dengan sabar
membersihkan popok anak-anaknya tanpa mengeluh dan menagih kita saat
kita dewasa. Bukankah ibu kita yang senantiasa menangisi saat kita
terbaring sakit dan rela tidak tidur karena menjaga dan menghaawtirkan
kita.
Saat kita mulai dewasa, sabar dan ikhlas
nya seorang ibu tidak juga berkuang tatkala banyak sikap kita yang
kerap kali merepotkannya.
Betapa Sabar dan Ikhlas Kedua Orang Tua Kita
Kedua orang tua kita adalah mereka yang senantiasa memberikan apapun untuk anak-anaknya. Sabar dan ikhlas nya kedua orang tua ketika memelihara dan memenuhi kebutuhan kita di waktu kita
masih belia, rasanya kata-kata seindah apapun tidak akan dapat
menggambarkan sepenuhnya betapa besar kesabaran serta keikhlasan mereka.
Benarkah Surga itu ada Ditelapak kaki ibu
Sering kali kita mendengar kata ini,
“Suraga ada ditelapak kaki ibu” benarkah itu? Mengenai ungkapan ini
disarkan kepada hadis yang berkaitan dengan birul walidain.
Meskipun ada beberapa yang mengatakannya lemah dan palsu, akan tetapi
ada juga hadis yang menyatakan derajatnya pada hadits yang lain hasan.
Terlepas dari perselisihan tersebut, (walalohua’lam) jika dilihat dari
segi makna tidak lah salah karena besarnya kasih sayang seorang ibu dan
begitu tinggi kedudukan seorang ibu bagi kita.
Kaki adalah organ tubuh yang paling
rendah bagi manusia, artinya kita harus senantiasa merendahkan diri kita
tatkala kita didepan ibu dan ayah
kita. Melembutkan suara saat berkata dan tidak membentak keduanya.
Bahkan dalam Al Quran dijelaskan pula, bahwa seorang anak bukan hanya
tidak diperbolehkan membentak kedua orang tuanya, bahkan ia tidak boleh
mengucapkan perkataan “ah” sekalipun tatkala salah satu atau kedua orang
tuanya memerintahkan sesuatu selain bermaksiat kepada Allah.
Ibu yang Mustajab Doanya
Didalam Islam, salah satu doa yang dikatakan Mustajab adalah
doa dari seorang ibu. Ia adalah orang yang berdoa tanpa mengharapkan
balasan dari anaknya. Oleh karena itu, jika kita mengharapkan
keberhasilan dan kebaikan senantiasa menyertai kita dimanapun dan apapun
usaha yang kita lakukan, maka mintalah doa serta restu dari ibu kita
jika memang ia masih ada. Tatkala kita mendapatka restu serta doanya,
maka itu adalah peluang serta asset berharga yang kita punya.
Sebaliknya, jangan sekali-kali kita
menyakiti hadi seoang ibu. Jika seoang ibu telah murka karena
kedurhakaan yang dilakukan oleh anaknya, maka tatkala ia berdoa
keburukan untuk anaknya karena kedurhakaan sang anak kepadanya, maka ini
adalah mala petaka yang sangat mengerikan yang tidak bisa kita
bayangkan akibatnya. Semoga kita bukan termasuk anak-anak yang durhaka kepada orang tua kita.
Kasih sayang ibu sepanjang masa
Begitu indahnya gambaran kasih sayang
yang diberikan oleh seorang ibu kepada anaknya. Ia memberikan apapun
agar anaknya hidup layak dan bahagia. Apakah kita berfikir ketika ia
berikan segalanya untuk kita, ia curahkan semua perhatiannya untuk
memikirkan kebutuhan kita, sang ibu mengharapkan balasan kita? Sama
sekali tidak, jikapun ada ibu yang terkadang meminta sekedar
kebutuhannya itupun tidak seberapa, dan itu memang kewajiban kita
sebagai seorang anak. Pernahkah kita mendengar dalam ajaran Islam yang
mulia, bahwa semua harta yang kita miliki adalah hak orang tua kita?
Kasih sayang ibu memang tidak terbatas.
Mungkin bagi sebagian kita yang telah merasakannya dan ada yang sama
sekali tidak sadar akan besarnya kasih sayang seorang yang mulia ini.
Masih ingatkah kita saat kita masih seorang bocah nakal yang sering kali
merepotkannya, ia mungkin marah, tapi bukan berarti itu dapat
mengurangi kasih sayang nya kepada kita. Ia marah karena kita melakukan
sesuatu yang salah, adalah salah satu bukti bahwa ia sedang menyayangi
anaknya.
Sekilas Tentang Ibu
Mungkin kita pernah mendengar berita atau kisah seorang ibu yang tega
menyakiti atau bahkan membunuh anaknya sendiri. Tapi pastilah kita jauh
lebih sering lagi mendengar atau menbaca kisah-kisah tentang besarnya
kasih sayang seorang ibu. Atau tidak lah usah kita melihat jauh terhadap
kisah yang dialami oleh orang lain yang ditulis dalam buku-buku sejarah
atau dicetak menjadi sebuah novel yang mahal, bukankah kita sendiri
mempunyai dan cukup mengenal seorang wanita yang pernah kesakitan saat
melahirkan anaknya, yaitu “KITA”.
Besarnya Kasih Sayang Ibu Untuk Anaknya
Ibu adalah wanita yang paling berjasa dalam hidup seorang anak dimanapun berada termasuk kita. Amat besarnya kasih sayang ibu
untuk anaknya, tak mungkin dapat kita bayangkan dan perumpamaan seindah
apapun mungkin tak akan sebanding dengan realita kasih sayang yang
mereka berikan dengan tulus kepada kita. Pada kesempatan ini, izinkan
saya untuk sedikit mengulsa tentang besarnya kasih seorang ibu bagi
anak-anaknya.
Kasih Sayang Seorang Ibu
Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang
malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan tolong
sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi
Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”
Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya
Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap
Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung
pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari
di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi
Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya”
Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan
Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman
Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan
Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya
Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba
Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang
Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada
Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat
Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah
Tahukah anda apa yang terjadi?
Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah
dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi,
dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng
Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata
Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan
Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya
Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”
Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya
Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap
Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung
pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari
di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi
Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya”
Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan
Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman
Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan
Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya
Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba
Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang
Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada
Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat
Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah
Tahukah anda apa yang terjadi?
Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah
dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi,
dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng
Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata
Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan
Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya
Monday, 14 December 2015
Perjuangan Cinta Seorang Ibu
Ibu, semasa mudanya hanya hidup penuh perjuangan, karena terkendala
biaya, pendidikan Ibuk hanya tamat sampai Sekolah Dasar. Bekerja mencari
nafkah untuk dirinya sendiri, orang tua dan saudaranya yang selama ini
Ibuk masih menumpang, tidak memiliki rumah. Ibuk, hampir saja dijodohkan
dengan anak tetangganya. Tetapi, Ibuk memiliki pandangan lain, dia
lebih tertarik dengan kenek angkot yang biasa ada di pasar Batu dimana
Ibuk sering pergi ke pasar tersebut. Ya, dia akan menjadi Bapak atau
suami dari Ibuk.
Mereka berdua memiliki anak-anak yang kelak akan membahagiakan mereka berdua. Zaman dulu memang kalimat ini masih sering terdengar “Banyak anak banyak rezeki”. Dengan keuangan yang minim, Bapak hanya sebagai supir angkutan kota, sebelumnya Bapak hanya menemani supir dan mencari penumpang untuk menaiki angkotnya.
Mereka berdua memiliki anak-anak yang kelak akan membahagiakan mereka berdua. Zaman dulu memang kalimat ini masih sering terdengar “Banyak anak banyak rezeki”. Dengan keuangan yang minim, Bapak hanya sebagai supir angkutan kota, sebelumnya Bapak hanya menemani supir dan mencari penumpang untuk menaiki angkotnya.
perjuangan seorang ibu
Ibu…
adalah wanita yang telah melahirkanku
merawatku
membesarkanku
mendidikku
hingga diriku telah dewasa
Ibu…
adalah wanita yang selalu siaga tatkala aku dalam buaian
tatkala kaki-kakiku belum kuat untuk berdiri
tatkala perutku terasa lapar dan haus
tatkala kuterbangun di waktu pagi, siang dan malam
Ibu…
adalah wanita yang penuh perhatian
bila aku sakit
bila aku terjatuh
bila aku menangis
bila aku kesepian
Ibu…
telah kupandang wajahmu diwaktu tidur
terdapat sinar yang penuh dengan keridhoan
terdapat sinar yang penuh dengan kesabaran
terdapat sinar yang penuh dengan kasih dan sayang
terdapat sinar kelelahan karena aku
Aku yang selalu merepotkanmu
aku yang selalu menyita perhatianmu
aku yang telah menghabiskan air susumu
aku yang selalu menyusahkanmu hingga muncul tangismu
Ibu…
engkau menangis karena aku
engkau sedih karena aku
engkau menderita karena aku
engkau kurus karena aku
engkau korbankan segalanya untuk aku
Ibu…
jasamu tiada terbalas
jasamu tiada terbeli
jasamu tiada akhir
jasamu tiada tara
jasamu terlukis indah di dalam surga
Ibu…
hanya do’a yang bisa kupersembahkan untukmu
karena jasamu
tiada terbalas
Hanya tangisku sebagai saksi
atas rasa cintaku padamu.
Friday, 11 December 2015
Cerita Perjuangan Seorang Ibu Merawat Anaknya yang Menderita Leukimia
Sempat Dikira Demam Berdarah
“Saat itu anak saya Ario Falah, berumur enam tahun. Dia sering batuk dan batuknya berkepanjangan, tak urung sembuh. Karena ia batuk terus, saya jadi curiga dan langsung periksa lab. Saat itu, Ario juga mulai tak nafsu makan hingga turun bobot hingga 8 kilogram,” cerita Kartika yang kerap dipanggil Ika saat ditemui Fimela Family.
Ika juga bercerita pada saat itu kulit anaknya mengalami perdarahan sehingga timbul bintik-bintik merah dan juga biru lebam, ia pun cepat merasa lelah. “Awalnya, anak saya dikira dokter demam berdarah karena bintik-bintik merah di tangan tersebut, tapi ternyata itu adalah perdarahan kulit yang merupakan salah satu ciri anak kanker,” ujar Ika. Karena tak urung sembuh, ia membawa buah hatinya ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan dari situlah ia tahu bahwa anaknya terkena penyakit Leukemia. Akhirnya, ia diberi jadwal pengobatan selama dua tahun. Namun, dokter di Indonesia menyarankan agar Ario dibawa ke Belanda agar pengobatannya lebih intensif. Terbanglah Ika dan Sang Buah Hati bersama ayahnya (kakek Ario) ke Belanda. Di Belanda, mereka diharuskan berada satu tahun untuk mendapatkan perawatan yang intensif.
“Saat itu anak saya Ario Falah, berumur enam tahun. Dia sering batuk dan batuknya berkepanjangan, tak urung sembuh. Karena ia batuk terus, saya jadi curiga dan langsung periksa lab. Saat itu, Ario juga mulai tak nafsu makan hingga turun bobot hingga 8 kilogram,” cerita Kartika yang kerap dipanggil Ika saat ditemui Fimela Family.
Ika juga bercerita pada saat itu kulit anaknya mengalami perdarahan sehingga timbul bintik-bintik merah dan juga biru lebam, ia pun cepat merasa lelah. “Awalnya, anak saya dikira dokter demam berdarah karena bintik-bintik merah di tangan tersebut, tapi ternyata itu adalah perdarahan kulit yang merupakan salah satu ciri anak kanker,” ujar Ika. Karena tak urung sembuh, ia membawa buah hatinya ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan dari situlah ia tahu bahwa anaknya terkena penyakit Leukemia. Akhirnya, ia diberi jadwal pengobatan selama dua tahun. Namun, dokter di Indonesia menyarankan agar Ario dibawa ke Belanda agar pengobatannya lebih intensif. Terbanglah Ika dan Sang Buah Hati bersama ayahnya (kakek Ario) ke Belanda. Di Belanda, mereka diharuskan berada satu tahun untuk mendapatkan perawatan yang intensif.
Perjuangan Seorang Ibu Yang Kuat
Ibu akan melakukan hal apapun bahkan bekerja keras tidak
seperti seorang ibu pada umumnya untuk mewujudkan impian anak-anaknya. Ibu
merelakan waktunya dan tenaganya untuk mencurahkan kesayangannya terhadap
anak-anaknya dalam kondisi ditinggal seorang suami. Ini adalah beberapa contoh
dari banyaknya seorang ibu yang bekerja keras untuk anak-anaknya.
Ketrina Lotkeri (67 tahun). Sejak ditinggal suaminya, ia
harus menghidupi kelima anaknya dengan menjadi pemulung. Pekerjaan yang kerap
dipandang sebelah mata ini dilakukannya demi menghidupi kebutuhan keluarganya.
Setiap hari Ketrina memulai harinya di pagi hari. Dengan
kontong plastic di punggungnya, Ketrina harus berjalan dengan menghirup udara
dingin kota ambon untuk mengais-ngais sampah. Sampai siang, hingga sengatan
matahari menyinari keningnya, ketrina tetap berjalan mengumpulkan sampah
buangan orang yang masih bisa dia manfaatkan.
Perjuangan dan kerja keras ketrina sebagai seorang ibu
tidak sia-sia, bahkan dia berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan
tinggi dari hasil memulungnya. Natalia
Lotkeri adalah anaknya yang sekarangan sedang menyenyam pendidikan sebagai mahasiswi
Fakultas Pertanian Universitas Pattimura. Dan Herodia Lotkeri yang sekarang
sedang sekolah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi. Bagi ketrina anak-anaknya adalah
harapannya, melihat mereka sukses di kemudian hari adalah kebahagian tersendiri
baginya.
Ini adalah makanan yang
tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata sebuah
keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki.
Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk
saling menopang.
Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung
tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut
diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih
menjahitkan baju untuk sang anak.
Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.
Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah
sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.
Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg
beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya
tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.
Dan kemudian berkata kepada ibunya: " Ma, saya mau berhenti sekolah dan
membantu mama bekerja disawah". Ibunya mengelus kepala anaknya dan
berkata : "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali
tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah
melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi
daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".
Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah,
mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang
anak ini dipukul oleh mamanya.
Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Ini adalah makanan yang
tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata sebuah
keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki.
Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk
saling menopang.
Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung
tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut
diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih
menjahitkan baju untuk sang anak.
Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.
Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah
sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.
Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg
beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya
tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.
Dan kemudian berkata kepada ibunya: " Ma, saya mau berhenti sekolah dan
membantu mama bekerja disawah". Ibunya mengelus kepala anaknya dan
berkata : "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali
tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah
melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi
daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".
Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah,
mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang
anak ini dipukul oleh mamanya.
Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Ibu yang Melahirkan Kita Semua
Seorang Ibu melahirkan dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih
sayang tanpa mengharapkan pamrih apapun juga. Seorang Ibu bisa dan mampu
memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak-anaknya, tidak ada
perkataan siang maupun malam, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak
mungkin dan ini 365 hari dalam setahun. Seorang Ibu mendoakan dan
mengingat anaknya tiap hari bahkan tiap menit dan ini sepanjang masa.
Bukan hanya setahun sekali saja pada hari-hari tertentu. Kenapa kita
baru bisa dan mau memberikan bunga maupun hadiah kepada Ibu kita hanya
pada waktu hari Ibu saja “Mother’s Day” sedangkan di hari-hari lainnya
tidak pernah mengingatnya, boro-boro memberikan hadiah, untuk menelpon
saja kita tidak punya waktu.Kita akan bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu kita untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga maupun hadiah.
Renungkanlah: Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu? Kapan kita terakhir mengundang Ibu? Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan-jalan? Dan kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada Ibu kita? Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita?
Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila Ibu telah meninggal, karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi.
Ibu Menangis
Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan
diperbolehkan bekerja disana. Di rumah putrinya ia bisa dan boleh
menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan
hanya sebagai babu dari keluarga tersebut. Ia merasa berterima kasih
sekali kepada Tuhan, bahwa permohonannya telah dikabulkan.
Di rumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya daripada dirinya sendiri. Di samping itu sering sekali dibentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dlm kamarnya yang kecil di belakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi putrinya.
Setelah bekerja bertahun-tahun sebagai babu tanpa ada orang yang mengetahui siapa dirinya dirumah tersebut, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yang setia ini sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo.
Puluhan tahun ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dengan putri kesayangannya. Uang pensiun yang ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, dengan pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya.
Pada tahun lampau beberapa hari sebelum Tahun Baru, ia jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yang ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Di samping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yang ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya.
Suhu diluaran telah mencapai 17 derajat di bawah nol dan salujupun turun dengan lebatnya, jangankan manusia anjingpun pada saat itu tidak mau keluar rumah lagi, karena di luaran sangat dingin, tetapi Nenek tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi ke rumah putrinya. Ia ingin betemu dengan putrinya sekali lagi yang terakhir kali. Dengan tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya bus berjam-jam di luaran. Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo tempat di mana ia tinggal letaknya jauh dari rumah putrinya. Satu perjalanan yang jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yang berada dalam keadaan sakit.
Setiba di rumah putrinya dlm keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata purtinya sendiri yang membukakan pintu rumah gedong di mana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat datang yang diucapkan putrinya ? Apakah rasa bahagia bertemu kembali dengan ibunya? Tidak! Bahkan ia ditegor: “Kamu sudah bekerja di rumah kami puluhan tahun sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu di belakang rumah!”
“Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Tahun Baru untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yang terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja, karena di luaran dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!” kata wanita tua itu.
“Maaf saya tidak ada waktu, di samping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja!” ucapan putrinya dengan nada kesal. Setelah itu pintu ditutup dengan keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis.
Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih, belas kasihanpun tidak ada. Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon di rumah putrinya “Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelpon ke kantor polisi, sebab di halte bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!”
Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yang tercinta yang tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.
Di rumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya daripada dirinya sendiri. Di samping itu sering sekali dibentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dlm kamarnya yang kecil di belakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi putrinya.
Setelah bekerja bertahun-tahun sebagai babu tanpa ada orang yang mengetahui siapa dirinya dirumah tersebut, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yang setia ini sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo.
Puluhan tahun ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dengan putri kesayangannya. Uang pensiun yang ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, dengan pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya.
Pada tahun lampau beberapa hari sebelum Tahun Baru, ia jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yang ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Di samping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yang ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya.
Suhu diluaran telah mencapai 17 derajat di bawah nol dan salujupun turun dengan lebatnya, jangankan manusia anjingpun pada saat itu tidak mau keluar rumah lagi, karena di luaran sangat dingin, tetapi Nenek tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi ke rumah putrinya. Ia ingin betemu dengan putrinya sekali lagi yang terakhir kali. Dengan tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya bus berjam-jam di luaran. Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo tempat di mana ia tinggal letaknya jauh dari rumah putrinya. Satu perjalanan yang jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yang berada dalam keadaan sakit.
Setiba di rumah putrinya dlm keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata purtinya sendiri yang membukakan pintu rumah gedong di mana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat datang yang diucapkan putrinya ? Apakah rasa bahagia bertemu kembali dengan ibunya? Tidak! Bahkan ia ditegor: “Kamu sudah bekerja di rumah kami puluhan tahun sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu di belakang rumah!”
“Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Tahun Baru untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yang terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja, karena di luaran dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!” kata wanita tua itu.
“Maaf saya tidak ada waktu, di samping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja!” ucapan putrinya dengan nada kesal. Setelah itu pintu ditutup dengan keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis.
Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih, belas kasihanpun tidak ada. Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon di rumah putrinya “Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelpon ke kantor polisi, sebab di halte bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!”
Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yang tercinta yang tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.
Kisah Perjuangan Seorang Ibu
Jalannya sudah tertatih-tatih, karena usianya sudah lebih dari 70
tahun, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar
rumah. Walaupun ia mempunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal di
rumah jompo, karena kehadirannya tidak diinginkan. Masih teringat
olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya
tersebut. Ayah dari anak tersebut minggat setelah menghamilinya tanpa
mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Di samping itu keluarganya
menuntut agar ia menggugurkan bayi yang belum dilahirkan, karena
keluarganya merasa malu mempunyai seorang putri yang hamil sebelum
nikah, tetapi ia tetap mempertahankannya, oleh sebab itu ia diusir dari
rumah orang tuanya.
Selain aib yang harus di tanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yang ia dapatkan hanya cemoohan, karena telah melahirkan seorang bayi haram tanpa bapak. Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yang didapatkannya dari Tuhan di mana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yang ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama Baby Love.
Selain aib yang harus di tanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yang ia dapatkan hanya cemoohan, karena telah melahirkan seorang bayi haram tanpa bapak. Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yang didapatkannya dari Tuhan di mana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yang ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama Baby Love.
Perjuangan Seorang Ibu Demi Anaknya
Pernahkah kita mencoba mengingat akan masa lalu...??
Sembilan bulan kita hidup dalam kandungan sang bunda…??
Sembilan bulan kita hidup dalam kandungan sang bunda…??
Bunda selalu membawa kita kemanapun ia pergi…
Tak pernah ia berfikir untuk menanggalkan kita walau sejenak…
Lalu kita pun lahir dengan tangis pertama kita menyapa dunia ini…
Bunda pun selalu ikhlas merawat kita dengan penuh kasih sayang…
Kadang kita telah begitu saja mengambil waktu istirahatnya dengan tangis kita di malam hari…
Lalu kita pun lahir dengan tangis pertama kita menyapa dunia ini…
Bunda pun selalu ikhlas merawat kita dengan penuh kasih sayang…
Kadang kita telah begitu saja mengambil waktu istirahatnya dengan tangis kita di malam hari…
mengganti popok kita yang basah, memberikan kita air susu ketika kita lapar…
Dan kita hanya bisa menangis saja ketika itu…
Kita selalu diayun, dipangku dan ditimang-timang
Lalu apa balasan kita waktu itu…??
Kita sering membuat basah baju bunda dengan air kencing kita…
Dan Bunda tak pernah sekalipun memarahi kita…
Usia kitapun beranjak perlahan…
Ingatkah ketika hari pertama kita masuk sekolah…??
Setiap pagi, Bunda selalu memandikan kita,…menyuapi kita…mengantar kita dan menunggui kita…
Dan kita hanya bisa menangis saja ketika itu…
Kita selalu diayun, dipangku dan ditimang-timang
Lalu apa balasan kita waktu itu…??
Kita sering membuat basah baju bunda dengan air kencing kita…
Dan Bunda tak pernah sekalipun memarahi kita…
Usia kitapun beranjak perlahan…
Ingatkah ketika hari pertama kita masuk sekolah…??
Setiap pagi, Bunda selalu memandikan kita,…menyuapi kita…mengantar kita dan menunggui kita…
Bunda begitu sabar mengiringi hari kita di sekolah…
Dan kita hanya bermain ketika itu…
Lalu ketika kita beranjak remaja…
Bundapun tak henti untuk menghawatirkan kita…
Ketika kita sering pulang terlambat dengan berbagai alasaan…
Bunda hanya menatap dengan penuh cemas…
Padahal mungkin kita hanya bersenang-senang di luar sana…
Ingatkah kita pada saat hari raya idul fitri…
Sering bunda membelikan kita baju, sepatu, celana baru…
Dengan harapan kita akan merasa senang…
Ingatkah pula apa kata kita ketika itu…
“Ah…bajunya udah kuno gak mau ah” bunda ‘nggak tau selera anak muda…
dan bunda hanya tersenyum saja…
Saat kita mengenal cinta akan sesama…
Sering kita membohongi bunda hanya untuk bercinta semata…
Dan bundapun tak pernah lepaskan kasih sayangnya untuk kita…
Ketika bunda bilang…”Nak…mestinya kamu sekolah dulu yang benar…jangan dulu berpacaran…””
Lantas kita hanya menjawab ”bu, saya udah gede, saya tau apa yg baik buat saya, ibu jangan terlalu mengatur saya dong!!”
Bunda hanya tersenyum dan menatap kita dengan penuh kasih sayang…
Apakah kita ingat saat kita memasuki bangku kuliah…
Bunda dengan penuh semangat memberikan biaya kuliah kita yang setinggi langit…
Lalu mungkin kita juga hanya bersenang-senang saja dengan dunia yang sedikit beranjak dewasa…
Ketika kita butuh uang utk menuntaskan hasrat cinta muda kita…
Sekali lagi kita sering membohongi bunda…
dengan mengatakan….”bu…saya butuh uang….untuk biaya praktikum……kira-kira….sekian juta..”
Lalu bunda bilang….”nak…apa tidak bisa di cicil…??
Kita dengan segera menjawab…”gak bisa bu...harus sekali bayar…"
Kita tak pernah tahu apa yang ada di benak bunda ketika itu…Jika saja bunda tahu bahwa itu hanyalah alasan kita semata…..karena mungkin saja yang sebenarnya adalah kita butuh uang untuk mentraktir atau menyenangkan pacar tersayang saja…
Dan ternyata bunda selalu saja menyayangi dan berusaha mempercayai kita.
Pada saat kita lulus kuliah…
Kita mungkin bisa melihat betapa bangganya bunda mendapati anaknya sudah menjadi seorang sarjana menangis penuh haru bahagia bunda ketika itu
Lalu tak lama setelah itu…tiba-taba…“Bu….sekarang saya sudah dewasa…saya ingin menikahi si anu…karena saya mencintai dia…boleh kan bu…?”
Mungkin bunda akan bilang ; ”Nak mustinya kamu mencari kerja dulu, lalu setelah sedikit mapan mungkin kamu bisa menikah”
Dan kita hanya bermain ketika itu…
Lalu ketika kita beranjak remaja…
Bundapun tak henti untuk menghawatirkan kita…
Ketika kita sering pulang terlambat dengan berbagai alasaan…
Bunda hanya menatap dengan penuh cemas…
Padahal mungkin kita hanya bersenang-senang di luar sana…
Ingatkah kita pada saat hari raya idul fitri…
Sering bunda membelikan kita baju, sepatu, celana baru…
Dengan harapan kita akan merasa senang…
Ingatkah pula apa kata kita ketika itu…
“Ah…bajunya udah kuno gak mau ah” bunda ‘nggak tau selera anak muda…
dan bunda hanya tersenyum saja…
Saat kita mengenal cinta akan sesama…
Sering kita membohongi bunda hanya untuk bercinta semata…
Dan bundapun tak pernah lepaskan kasih sayangnya untuk kita…
Ketika bunda bilang…”Nak…mestinya kamu sekolah dulu yang benar…jangan dulu berpacaran…””
Lantas kita hanya menjawab ”bu, saya udah gede, saya tau apa yg baik buat saya, ibu jangan terlalu mengatur saya dong!!”
Bunda hanya tersenyum dan menatap kita dengan penuh kasih sayang…
Apakah kita ingat saat kita memasuki bangku kuliah…
Bunda dengan penuh semangat memberikan biaya kuliah kita yang setinggi langit…
Lalu mungkin kita juga hanya bersenang-senang saja dengan dunia yang sedikit beranjak dewasa…
Ketika kita butuh uang utk menuntaskan hasrat cinta muda kita…
Sekali lagi kita sering membohongi bunda…
dengan mengatakan….”bu…saya butuh uang….untuk biaya praktikum……kira-kira….sekian juta..”
Lalu bunda bilang….”nak…apa tidak bisa di cicil…??
Kita dengan segera menjawab…”gak bisa bu...harus sekali bayar…"
Kita tak pernah tahu apa yang ada di benak bunda ketika itu…Jika saja bunda tahu bahwa itu hanyalah alasan kita semata…..karena mungkin saja yang sebenarnya adalah kita butuh uang untuk mentraktir atau menyenangkan pacar tersayang saja…
Dan ternyata bunda selalu saja menyayangi dan berusaha mempercayai kita.
Pada saat kita lulus kuliah…
Kita mungkin bisa melihat betapa bangganya bunda mendapati anaknya sudah menjadi seorang sarjana menangis penuh haru bahagia bunda ketika itu
Lalu tak lama setelah itu…tiba-taba…“Bu….sekarang saya sudah dewasa…saya ingin menikahi si anu…karena saya mencintai dia…boleh kan bu…?”
Mungkin bunda akan bilang ; ”Nak mustinya kamu mencari kerja dulu, lalu setelah sedikit mapan mungkin kamu bisa menikah”
Lalu apa jawab kita; ”Bu! kalo ibu percaya, .saya sanggup untuk
memberikan makan dia tanpa ibu kasih, saya harap ibu tidak melarang niat
saya untuk menikah sekarang, saya sudah dewasa bu, bukan anak kecil
yang segalanya harus ibu perhatikan!! !”
Dan demi kasih sayangnya terhadap kita, maka bundapun sekali lagi meluluskan keinginan kita, sekaligus memberikan kita sedikit bekal untuk mengarungi biduk rumah tangga kita nanti.
Tak berapa lama setelah itu, kitapun merasa sanggup untuk hidup terpisah dari beliau….maka sekali lagi kita merajuk pada bunda.
Pada saat bunda sudah memasuki hari tuanya, kita pun meninggalkan dia dalam hari-hari senjanya.
Dan bunda tak pernah meminta kita untuk menemaninya karena bunda pikir anaknya sudah mempunyai kehidupan sendiri.
Bertahun-tahun kita meninggalkan bunda dan mungkin hanya setahun sekali saja kita menengok dia, itupun pada saat Hari Raya saja.
Lalu, ketika Bunda sakit di hari tuanya,
Mungkin bunda mengharapkan kasih sayang anaknya bisa sedikit menghibur dia.
Tapi, sering kita mengabaikan harapan bunda…
Kita mungkin merasa direpotkan hanya dengan mengurusi seorang wanita tua yang sudah tak berdaya itu, .maka dengan tanpa ragu lagi kita antarkan bunda pada sebuah panti jompo, kita tinggalkan bunda dengan segala harapannya terhadap kita.
Lalu pada saat Allah hendak menjemput dia, kita mungkin sedang tenggelam dalam kehidupan yang sudah menyita sebagian hati nurani kita.
Hingga satu hari terdengar bunyi dering telepon yang memberikan kabar bahwa bunda telah tiada.
Dan aku tak berani bilang bahwa mungkin saja hati kita sudah bebal dan telinga kita sudah tuli akan kenyataan ini.
Ada sesal mungkin di sana, .sesal yang tak akan terbalas dengan sejuta tetesan air mata kita.
Dan demi kasih sayangnya terhadap kita, maka bundapun sekali lagi meluluskan keinginan kita, sekaligus memberikan kita sedikit bekal untuk mengarungi biduk rumah tangga kita nanti.
Tak berapa lama setelah itu, kitapun merasa sanggup untuk hidup terpisah dari beliau….maka sekali lagi kita merajuk pada bunda.
Pada saat bunda sudah memasuki hari tuanya, kita pun meninggalkan dia dalam hari-hari senjanya.
Dan bunda tak pernah meminta kita untuk menemaninya karena bunda pikir anaknya sudah mempunyai kehidupan sendiri.
Bertahun-tahun kita meninggalkan bunda dan mungkin hanya setahun sekali saja kita menengok dia, itupun pada saat Hari Raya saja.
Lalu, ketika Bunda sakit di hari tuanya,
Mungkin bunda mengharapkan kasih sayang anaknya bisa sedikit menghibur dia.
Tapi, sering kita mengabaikan harapan bunda…
Kita mungkin merasa direpotkan hanya dengan mengurusi seorang wanita tua yang sudah tak berdaya itu, .maka dengan tanpa ragu lagi kita antarkan bunda pada sebuah panti jompo, kita tinggalkan bunda dengan segala harapannya terhadap kita.
Lalu pada saat Allah hendak menjemput dia, kita mungkin sedang tenggelam dalam kehidupan yang sudah menyita sebagian hati nurani kita.
Hingga satu hari terdengar bunyi dering telepon yang memberikan kabar bahwa bunda telah tiada.
Dan aku tak berani bilang bahwa mungkin saja hati kita sudah bebal dan telinga kita sudah tuli akan kenyataan ini.
Ada sesal mungkin di sana, .sesal yang tak akan terbalas dengan sejuta tetesan air mata kita.
Dan kitapun hanya meratapi kepergian bunda, ya bunda yang sudah mencetak kita dengan segenap kasih sayang bunda yang tak terperi ketulusannya, sesal yang tiada guna ketika kita tahu bunda pergi bersama setitik harapan bunda bahwa dia ingin anaknya ada ketika hembusan nafasnya yang terakhir memutuskan kehidupannya.
Dan kita hanya terpekur menatap bekunya batu nisan bertahtakan nama bunda. Itupun jika masih ada secuil nurani kita yang masih berwarna putih.
Kutuliskan ini, untuk mengenang bahwa bunda adalah pembawa syurga buat anaknya, mungkin ini tak semua benar, tapi tak mustahil ini terjadi dan ada di dunia ini.
Bunda, .aku menyayangi bunda seperti aku menyayangi syurgaNYA.
Maafkan anakmu ya bunda.
Peluk cium anakmu selalu.
Kisah Nyata Perjuangan Seorang Ibu
“Aku dilahirkan dari rahim seorang ibu untuk menjadi Ibu. Yang
harus menjaga dan mendidik anak-anakku, mengurus rumah tanggaku, dan
menurut dengan suamiku. Anak-anakku yang masih terlalu kecil untuk
mengerti apa yang sebernarnya ibu mereka rasakan, rumah tanggaku yang
terlanjur hancur dan suamiku yang sudah tak lagi peduli denganku,”
Saat itu aku putuskan untuk menikah dengan seprang lelaki yang
sangat aku cintai. Lelaki yang selalu sempurna di mataku. Lelaki yang
selalu mengucap kata-kata manisnya kepadaku. Dan lelaki yang pertama dan
untuk yang terakhir kalinya mengucap janji suci untuk menjagaku dan
juga rumah tangga ini. masih terdengar jelas janji itu di telingaku.
Sampai rumah tangga ini mempunyai keturunan seorang anak laki-laki.
Hingga kejadian itu terjadi. Gempa besar yang melanda daerahku.
Yang membuat aku tak dapat berjalan dengan normal. Beberapa bulan
setelah itu, aku merasa ada yang aneh dari suamiku. Dia lebih suka pergi
dari pada menemaniku dan anakku. Apa lagi dengan kondisiku yang masih
trauma karena bencana itu dan juga aku yang sedang mengandung buah hati
kami yang ke dua. Namun aku tak berani bertanya padanya. Karena aku tak
ingin bertengkar dengan suamiku. Aku hanya dapat bercerita apa yang aku
rasakan pada Allah. Dan aku juga tak punya pilihan lain karena aku masih
mempunyai tanggung jawab terhadap anak-anakku.
Saat yang sangat aku tunggu-tunggu telah tiba. Buah hatiku lahir
dengan selamat. Aku berharap dengan kehadirannya, suamiku dapat kembali
seperti dahulu. Namun kenyataan pahit yang aku alami. Dia dengan ringan
hati mengatakan kepada orang tuaku jika dia ingin buah hatinya diasuh
oleh orang tuaku. Hatiku hancur. Sangatlah hancur. Namun aku menahannya.
Karena sekali lagi aku masih teringat pada buah hatiku.
Ku pendam semuanya bertahun-tahun. Tak ku ceritakan pada seorang
pun tentang masalahku dengan suamiku. Aku bertanya-tanya. Apa salahku
padanya? Mengapa dia begitu tidak senang terhadapku? Aku selalu memohon
pada Allah agar aku tetap di beri kekuatan. Bahkan aku pernah berniat
untuk mengakhiri hidupku. Namun aku mendengan suara tangisan buah hatiku
yang tak berdosa itu.
Ku mencoba tetap sabar. Namun suatu ketika aku mendapat masalah
baru. Saat suamiku pergi menjalankan tugasnya menjadi seorang ABRI. Aku
kerepotan dengan kedua anakku yang masih kecil. Aku datang ke tempat
mertuaku. Aku meminta baik-baik agar mertuaku mau menjaga anakku. Hanya
sebentar saja karena aku ingin membersihkan tubuhku. Namun apa? Caci
makian yang aku dapatkan. Ya sudahlah, aku terpaksa tidak mansi seharian
karena tidak ada yang mau menjaga anakku.
Siang malam aku menangis. Rumah tanggaku sudah benar-benar hancur.
Tak ada harapan lagi. Aku terus mencoba bersabar. Hingga anakku yang
terakhir sudah berumur satu tahun. Malam itu saat aku sedang bersama
anak-anakku, suamiku pulang. Aku menyambutnya dengan hati senang. Tapi. .
. ada seorang wanita yang diajaknya pulang.
Ya Tuhan…
Wednesday, 9 December 2015
Tuesday, 8 December 2015
Kata Kata Motivasi Cinta Ibu
mendengar doa ibu aku lumpuh kata, dada tercekat, bibir bungkam tak bisa bicara. Betapa mulianya ibu
meskipun engkau diam seribu basa, tapi sorot matamu mengungkap rasa haru dan keterkejutanmu.
Ya Allah! Sesungguhnya ibuku dalam tanggunganMu dan tali perlindunganMu
ibu menangis ketika aku mendapat kesusahan ibu menangis ketika aku bahagia
ibu memberi pelajaran keadilan dengan kasih sayang
Kasihku takkan putus terhadapmu selamanya I love you ibu
Ketika ku mulai belajar merangkak, engkau dgn sabar menjaga Ketika ku mulai blajar berbicara, engkau dgn sabar mengenalkan bahasa tutur kata
Maaf anak ku , aku semakin tua Ketika lututku mulai melemah, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantu ku bangun,
Kasihmu… sayangmu… selalu kau berikan padaku… Kau banting tulangmu… kau peras keringatmu… Namun kau selalu berusaha tersenyum didepanku
senyuman ibu bisa menghapus semua kesedihan ku
Ketika ibu sakit...di mana tangan anak yang ibu harapkan dapat merawat kesakitan ibu?
Mother ... I'm sorry, as your son I can not completely happy.
Akan ku Coba merangkai seluruh waktuku yang tersisa Untuk memberi hari-hari bahagia untukmu ibu,
Kaulah ibuku cinta kasihku Terima kasihku takkan pernah terhenti Kau bagai matahari yang selalu bersinar Sinari hidupku dengan kehangatanmu
Ibu… Sebagai seorang anak, baktiku hanya di detik-detik terakhir sebelum kau diistirahatkan di tempat tidurmu yang abadi
Segamit memori ku kenangi, Setulus kasih ku dambai, Potret wajahmu ku tatapi, Sebuah kehilangan yang tiada ganti. khas buat ibu tersayang
Aku masih ingat dan akan terus ingat sehingga akhir hayat dulu engkau banyak menderita ibu
ibu izinkanlah kami menjadi anak yang berbakti kepadamu anak yang tak melupakan kasih sayang mu
Biarpun kepahitan yang telah engkau rasakan Tidakpun kau merasa jemu Mengasuh dan mendidik kami
aku tidak tahu siapa aku tanpa kamu Aku bahkan tidak tahu apa yang salah dari benar Kau selalu menjadi bagian dari diriku
malikat di dunia ku adalah ibuku
Ibu… Jangan benci kami jika kami membuatmu menangis.
Ibu Ternyata hari itu adalah hari terakhir kita bergembira,tertawa bersama..Kau tinggalkan kenangan yg tak akan aku lupakan sampai kapan pun
Anak ku... Ketika aku semakin tua, aku harap kamu memahami & memiliki kesabaran untukku
setiap hari kamu bangun pagi ibu berlomba dengan terbitnya matahari demi mencari sesuap nasi demi anakmu ini, Terima Kasih Ibu
Ibu… Semakin hari kulihat tubuhmu semakin lemah dan tak berdaya, tapi di depan aku kau perlihatkan seolah-olah kau masih kuat seperti dulu
Ibu… Tak henti-hentinya aku berikhtiar dan berdoa untuk mewujudkan impianmu itu
Terimakasih... ibu engkau telah membesarkankku sampai aku sebesar ini
jangan sampai engkau ibu jatuh dan menangis kembali untuk membuat aku bahagia , sekarang semuanya giliran aku
Ibu Disaat ku pergi meninggalkan rumah Hatiku sungguh sedih .. Tp mau bagaimana lg .. Ku harus meraih cita2 demi kebahagiaan ibu
Ktika dnia prgi mninggalkan anda&semua sanak sodara anda mnghiraukan anda mka kasih&syg seorang ibulah yg kan mrangkul anda dlam ksendirian.
Aku mengenali duniaku ini Yang mencegahku dari kesalahanku Yang mendidikku dengan Penuh kasih sayangmu Kamulah lambang cintaku
Ass semua pencinta ibu.. Tahukah kalian bahwa ibu adalah Wali Allah yang nyata yang ada di dunia. kasih sayangnya membawamu ke surga..
Dengan apa kan ku imbangi kasihmu ibu? Kiranya dunia inipun kan jadimilikku Aku hanya akan bangga jadi anakmu
Ibu dari segala ibadah adalah takut dosa. Ibu dari segala cita-cita adalah sabar.
Empat hal yang dipandang sebagai ibu : Ibu dari segala ubat adalah sedikit makan. Ibu dari segala adab adalah sedikit bicara.
meskipun engkau diam seribu basa, tapi sorot matamu mengungkap rasa haru dan keterkejutanmu.
Ya Allah! Sesungguhnya ibuku dalam tanggunganMu dan tali perlindunganMu
ibu menangis ketika aku mendapat kesusahan ibu menangis ketika aku bahagia
ibu memberi pelajaran keadilan dengan kasih sayang
Kasihku takkan putus terhadapmu selamanya I love you ibu
Ketika ku mulai belajar merangkak, engkau dgn sabar menjaga Ketika ku mulai blajar berbicara, engkau dgn sabar mengenalkan bahasa tutur kata
Maaf anak ku , aku semakin tua Ketika lututku mulai melemah, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantu ku bangun,
Kasihmu… sayangmu… selalu kau berikan padaku… Kau banting tulangmu… kau peras keringatmu… Namun kau selalu berusaha tersenyum didepanku
senyuman ibu bisa menghapus semua kesedihan ku
Ketika ibu sakit...di mana tangan anak yang ibu harapkan dapat merawat kesakitan ibu?
Mother ... I'm sorry, as your son I can not completely happy.
Akan ku Coba merangkai seluruh waktuku yang tersisa Untuk memberi hari-hari bahagia untukmu ibu,
Kaulah ibuku cinta kasihku Terima kasihku takkan pernah terhenti Kau bagai matahari yang selalu bersinar Sinari hidupku dengan kehangatanmu
Ibu… Sebagai seorang anak, baktiku hanya di detik-detik terakhir sebelum kau diistirahatkan di tempat tidurmu yang abadi
Segamit memori ku kenangi, Setulus kasih ku dambai, Potret wajahmu ku tatapi, Sebuah kehilangan yang tiada ganti. khas buat ibu tersayang
Aku masih ingat dan akan terus ingat sehingga akhir hayat dulu engkau banyak menderita ibu
ibu izinkanlah kami menjadi anak yang berbakti kepadamu anak yang tak melupakan kasih sayang mu
Biarpun kepahitan yang telah engkau rasakan Tidakpun kau merasa jemu Mengasuh dan mendidik kami
aku tidak tahu siapa aku tanpa kamu Aku bahkan tidak tahu apa yang salah dari benar Kau selalu menjadi bagian dari diriku
malikat di dunia ku adalah ibuku
Ibu… Jangan benci kami jika kami membuatmu menangis.
Ibu Ternyata hari itu adalah hari terakhir kita bergembira,tertawa bersama..Kau tinggalkan kenangan yg tak akan aku lupakan sampai kapan pun
Anak ku... Ketika aku semakin tua, aku harap kamu memahami & memiliki kesabaran untukku
setiap hari kamu bangun pagi ibu berlomba dengan terbitnya matahari demi mencari sesuap nasi demi anakmu ini, Terima Kasih Ibu
Ibu… Semakin hari kulihat tubuhmu semakin lemah dan tak berdaya, tapi di depan aku kau perlihatkan seolah-olah kau masih kuat seperti dulu
Ibu… Tak henti-hentinya aku berikhtiar dan berdoa untuk mewujudkan impianmu itu
Terimakasih... ibu engkau telah membesarkankku sampai aku sebesar ini
jangan sampai engkau ibu jatuh dan menangis kembali untuk membuat aku bahagia , sekarang semuanya giliran aku
Ibu Disaat ku pergi meninggalkan rumah Hatiku sungguh sedih .. Tp mau bagaimana lg .. Ku harus meraih cita2 demi kebahagiaan ibu
Ktika dnia prgi mninggalkan anda&semua sanak sodara anda mnghiraukan anda mka kasih&syg seorang ibulah yg kan mrangkul anda dlam ksendirian.
Aku mengenali duniaku ini Yang mencegahku dari kesalahanku Yang mendidikku dengan Penuh kasih sayangmu Kamulah lambang cintaku
Ass semua pencinta ibu.. Tahukah kalian bahwa ibu adalah Wali Allah yang nyata yang ada di dunia. kasih sayangnya membawamu ke surga..
Dengan apa kan ku imbangi kasihmu ibu? Kiranya dunia inipun kan jadimilikku Aku hanya akan bangga jadi anakmu
Ibu dari segala ibadah adalah takut dosa. Ibu dari segala cita-cita adalah sabar.
Empat hal yang dipandang sebagai ibu : Ibu dari segala ubat adalah sedikit makan. Ibu dari segala adab adalah sedikit bicara.
KISAH PERJUANGAN SEORANG IBU
Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang
memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia,
tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang. Ibunya
bersusah payah seorang diri membesarkan anaknya, dan disaat itu kampung
tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut
diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih
menjahitkan baju untuk sang anak.
Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah. Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut. Dan kemudian berkata kepada ibunya:
" Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah".
Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".
Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya. Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.
Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya. Pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata :
" Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran".
Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.
Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata:
"Masih dengan beras yang sama". Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya".
Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana?"
Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam-macam jenis beras?"
Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.
Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu!".
Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis".
Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak. Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi." Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.
Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan kesekolah.
Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: "Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu."
Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."
Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah. Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut. Dan kemudian berkata kepada ibunya:
" Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah".
Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".
Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya. Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.
Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya. Pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata :
" Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran".
Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.
Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata:
"Masih dengan beras yang sama". Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya".
Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana?"
Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam-macam jenis beras?"
Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.
Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu!".
Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis".
Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak. Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi." Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.
Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan kesekolah.
Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: "Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu."
Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."
Monday, 7 December 2015
Ibu Sebagai Pahlawan
Mengapa di sebut pahwalan ??
Karna menurut saya, ibu merupakan orang yang paling kuat di
banding ayah, derajat ibu tiga tingkat lebih tinggi dari pada di bandingkan dengan ayah. Ibu rela berkorban
nyawa. Sebagai bukti dia telah melahirkan kita, karna apa ?? karna dia
mempertaruhkan nyawanya. Seorang ibu menginginkan keduanya selamat, maupun itu
anaknya ataupun ibunya, dan anak nya terlahir dengan selamat tidak ada kurang
sutu apapun.
Ibu adalah seorang pemberani dan berkorban apapun, seorang
ibu tidak ingin pengorbanannya menjadi sis-sia.
Subscribe to:
Posts (Atom)













