“Aku dilahirkan dari rahim seorang ibu untuk menjadi Ibu. Yang
harus menjaga dan mendidik anak-anakku, mengurus rumah tanggaku, dan
menurut dengan suamiku. Anak-anakku yang masih terlalu kecil untuk
mengerti apa yang sebernarnya ibu mereka rasakan, rumah tanggaku yang
terlanjur hancur dan suamiku yang sudah tak lagi peduli denganku,”
Saat itu aku putuskan untuk menikah dengan seprang lelaki yang
sangat aku cintai. Lelaki yang selalu sempurna di mataku. Lelaki yang
selalu mengucap kata-kata manisnya kepadaku. Dan lelaki yang pertama dan
untuk yang terakhir kalinya mengucap janji suci untuk menjagaku dan
juga rumah tangga ini. masih terdengar jelas janji itu di telingaku.
Sampai rumah tangga ini mempunyai keturunan seorang anak laki-laki.
Hingga kejadian itu terjadi. Gempa besar yang melanda daerahku.
Yang membuat aku tak dapat berjalan dengan normal. Beberapa bulan
setelah itu, aku merasa ada yang aneh dari suamiku. Dia lebih suka pergi
dari pada menemaniku dan anakku. Apa lagi dengan kondisiku yang masih
trauma karena bencana itu dan juga aku yang sedang mengandung buah hati
kami yang ke dua. Namun aku tak berani bertanya padanya. Karena aku tak
ingin bertengkar dengan suamiku. Aku hanya dapat bercerita apa yang aku
rasakan pada Allah. Dan aku juga tak punya pilihan lain karena aku masih
mempunyai tanggung jawab terhadap anak-anakku.
Saat yang sangat aku tunggu-tunggu telah tiba. Buah hatiku lahir
dengan selamat. Aku berharap dengan kehadirannya, suamiku dapat kembali
seperti dahulu. Namun kenyataan pahit yang aku alami. Dia dengan ringan
hati mengatakan kepada orang tuaku jika dia ingin buah hatinya diasuh
oleh orang tuaku. Hatiku hancur. Sangatlah hancur. Namun aku menahannya.
Karena sekali lagi aku masih teringat pada buah hatiku.
Ku pendam semuanya bertahun-tahun. Tak ku ceritakan pada seorang
pun tentang masalahku dengan suamiku. Aku bertanya-tanya. Apa salahku
padanya? Mengapa dia begitu tidak senang terhadapku? Aku selalu memohon
pada Allah agar aku tetap di beri kekuatan. Bahkan aku pernah berniat
untuk mengakhiri hidupku. Namun aku mendengan suara tangisan buah hatiku
yang tak berdosa itu.
Ku mencoba tetap sabar. Namun suatu ketika aku mendapat masalah
baru. Saat suamiku pergi menjalankan tugasnya menjadi seorang ABRI. Aku
kerepotan dengan kedua anakku yang masih kecil. Aku datang ke tempat
mertuaku. Aku meminta baik-baik agar mertuaku mau menjaga anakku. Hanya
sebentar saja karena aku ingin membersihkan tubuhku. Namun apa? Caci
makian yang aku dapatkan. Ya sudahlah, aku terpaksa tidak mansi seharian
karena tidak ada yang mau menjaga anakku.
Siang malam aku menangis. Rumah tanggaku sudah benar-benar hancur.
Tak ada harapan lagi. Aku terus mencoba bersabar. Hingga anakku yang
terakhir sudah berumur satu tahun. Malam itu saat aku sedang bersama
anak-anakku, suamiku pulang. Aku menyambutnya dengan hati senang. Tapi. .
. ada seorang wanita yang diajaknya pulang.
Ya Tuhan…
No comments:
Post a Comment